Program Doktor Psikologi Universitas Airlangga

Rabu, 16 Oktober 2019. Bertempat di Ruang Sidang 1 Fakultas Psikologi Universitas Airlangga telah dilangsungkan Ujian Disertasi Terbuka (UDT), dengan promovendus Primatia Yogi Wulandari dari Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. Berbeda dari ujian-ujian disertasi terbuka sebelumnya, ujian kali ini adalah perdana dilaksanakannya UDT dengan melibatkan penguji eksternal dari luar negara. Sejalan dengan area riset promovendus di bidang Psikologi Perkembangan, maka hadir menjadi penguji eksternal adalah Professor Roger Moltzen, ahli Psikologi Perkembangan dari The University of Waikato, New Zealand.

     

Ujian berlangsung selama kurang lebih 2 jam, dalam proses bilingual, menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Promovendus mempertahankan disertasi yang berjudul “Model Empati Anak Usia Dini: Peran Strategi Konflik Saudara Kandung dengan Mediasi Theory of Mind dan Regulasi Emosi”. Hasil penelitian promovendus telah membuktikan bahwa strategi konflik dengan saudara kandung, Theory of Mind (ToM), dan regulasi emosi berperan terhadap perkembangan empati anak, yang terdiri dari empati kognitif dan empati afektif. Hasil penelitian ini memperkaya penjelasan ilmiah tentang perkembangan anak usia dini, khususnya terkait perkembangan sosioemosionalnya.

Pembuktian model konseptual yang telah dibangun oleh promovendus memiliki implikasi pada teori konflik, terkait adanya pengaruh strategi konflik terhadap empati anak usia dini. Dengan dimediasi oleh regulasi emosi mendukung teori konflik bahwa tidak semua konflik berdampak negatif. Strategi yang tepat akan menentukan dampak konflik. Di samping itu, hasil ini juga berimplikasi terhadap teori emosi, dimana penelitian ini lebih mendukung pendekatan specific-emotion theory daripada pendekatan yang berdasarkan valensi emosi (positif-negatif). Specific-emotion theory menyatakan bahwa setiap jenis emosi memiliki fungsi yang spesifik dan tidak bisa hanya dibedakan berdasarkan valensi positif dan negatifnya saja.

Menindaklanjuti model konseptual yang telah dibuktikan, promovendus menyarankan beberapa hal kepada masyarakat yang akan memanfaatkan hasil penelitian ini, antara lain:

  • Stimulasi yang tepat terkait dengan strategi konflik perlu diberikan orangtua untuk mengoptimalkan empati anak. Stimulasi dapat dilakukan dengan memberi contoh tentang strategi-strategi konstruktif yang harus dilakukan anak agar konflik dengan saudara yang terjadi berdampak positif, misalnya dengan mengajak anak berdialog dan berargumentasi saat terlibat dalam konflik. Selama ini, konflik dengan saudara seringkali dianggap hal yang negatif oleh para orangtua. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ternyata bila anak usia dini memiliki strategi konflik yang tepat akan berdampak pada perkembangan empati kognitif dan empati afektifnya.
  • Guru sebagai pendidik anak usia dini dapat mengoptimalkan aktivitas akademik yang dapat membantu anak dalam mengembangkan strategi konstruktif di dalam konflik dengan saudaranya. Pemberian permainan yang merangsang anak untuk melakukan strategi yang konstruktif untuk kemudian diterapkan di rumah dapat membantu anak mengasah strategi konflik dengan saudara kandungnya. Permainan tersebut dapat berupa aktivitas bermain peran di sekolah dengan menjadikan anak sebagai tokoh dan temannya sebagai saudaranya. Skenario konflik dapat diberikan pada permainan tersebut sekaligus melibatkan contoh-contoh perilaku yang menjadi indikator dari strategi konflik yang konstruktif. Guru juga dapat membuat cerita-cerita terkait dampak negatif dari cara-cara yang destruktif, dengan harapan agar anak tidak melakukan hal itu dalam konfliknya.
  • Para pembuat kebijakan dapat mengimplementasikan hasil penelitian ini ke dalam kurikulum PAUD yang mengandung kegiatan-kegiatan yang dapat menumbuhkan empati anak, baik di sekolah maupun di rumah. Penataulangan kurikulum PAUD terkait dengan kesinambungan aktivitas di rumah dan di sekolah perlu diperkuat agar anak usia dini dapat berkembang secara optimal. Adanya penugasan-penugasan di rumah yang termuat di dalam kurikulum anak usia dini dapat menjadi salah satu upaya kongkret, sehingga anak diharapkan mampu mengembangkan empati yang menjadi salah satu indikator tingkat pencapaian perkembangan anak usia dini di dalam kurikulum PAUD.

Selamat kepada Lulusan Ke-40 Program Studi Doktor Psikologi UNAIR, Dr. Primatia Yogi Wulandari, S.Psi., M.Si., Psikolog. Selamat berkarya kembali dan terus memberikan kontribusi terbaik bagi pengembangan ilmu, peningkatan potensi maupun penyelesaian berbagai problem yang ada di masyarakat.